Geopark Global

Geopark dunia versi UNESCO, adalah manajemen kawasan geologi dengan konsep menyeluruh dan terpadu yang bertujuan untuk pendidikan, konservasi, serta pembangunan secara berkelanjutan. Geopark dunia versi UNESCO menggunakan semua aspek warisan alam dan budaya di kawasan ini, untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan isu-isu utama yang dihadapi masyarakat, seperti menggunakan sumber daya alam secara berkelanjutan, mengurangi dampak perubahan iklim dan mengurangi risiko bencana alam.

Dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kelestarian alam yang ada saat ini, Geopark dunia versi UNESCO memberi masyarakat setempat rasa bangga terhadap kawasan mereka dan memperkuat kemampuannya untuk mengenali alam tempat tinggal mereka. Penciptaan lapangan pekerjaan baru yang inovatif dan kursus pelatihan berkualitas terbaik dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan sumber mata pencaharian baru bagi masyarakat, melalui pengembangan tujuan wisata alam, dengan tetap dapat menjaga kelestarian alam di kawasan ini.

Burren and Cliff of Moher Geopark, Ireland
Burren and Cliff of Moher Geopark, Ireland
Dong Van Karts Plateau Geopark, Hagiang, Vietnam
Dong Van Karts Plateau Geopark, Hagiang, Vietnam
Songsan Ilchulbong in Jeju Geopark, South Korea
Songsan Ilchulbong in Jeju Geopark, South Korea
Kalta Geopark, Iceland
Kalta Geopark, Iceland
Indonesia Geoparks

Geopark Indonesia

Indonesia Geoparks
Geopark Rinjani
Berlokasi di Nusa Tenggara Barat, Geopark ini berada di kawasan seluas kurang lebih 2.800 km2, yang mencakup lima wilayah yaitu Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat dan kota Mataram. Di Geopark Rinjani terdapat 22 situs geologi, 8 keragaman hayati dan 17 keragaman budaya yang menjadi potensi tempat tujuan wisata unggulan. Pemberdayaan masyarakat menjadi kunci utama dalam tata kelola dalam kawasan Geopark Rinjani dan saat ini telah memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakatnya, yang sejalan dengan berkembangnya pengetahuan, kemampuan dan pembekalan di masyarakat.
Indonesia Geoparks
Geopark Ciletuh – Pelabuhan Ratu
Geopark Ciletuh-Pelabuhanratu memiliki kondisi geografis yang sangat indah, termasuk didalamnya terdapat kumpulan batuan tertua, keanekaragaman hayati juga keanekaragaman budaya seperti upacara tradisional saat masa panen tiba (Seren Taun), sebagai bentuk terima kasih kepada alam. Geopark ini berlokasi di kota Sukabumi, Jawa Barat. Di kawasan ini juga tersimpan beragam situs Geologi yang berasal dari masa dimana masyarakat pada saat itu menggunakan batu-batu besar untuk membuat produk kebudayaannya (Megalitik).
Indonesia Geoparks
Geopark Merangin
Geopark Merangin berada di kawasan Merangin, provinsi Jambi, dengan luas area 1.699 km2. Kawasan Geopark ini menyimpan beragam fosil tanaman purbakala, salah satunya adalah tanaman Cathasian yang berasal dari benua purba (Gondwana) berusia 290 juta tahun yang lalu. Sehingga Geopark Merangin menjadi referensi berbagai rekonstruksi pergerakan lempeng bumi.
Indonesia Geoparks
Geopark Batur
Gunung Batur merupakan gunung berapi aktif yang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Memiliki ketinggian 1.171 meter di atas permukaan laut. Gunung Batur merupakan bagian dari rangkaian gunung api (Ring of Fire) Pasifik dan menjadi salah satu gunung berapi teraktif di Indonesia. Tercatat sejak 1804, Gunung Batur pernah meletus sebanyak 26 kali.Gunung ini memiliki kawah raksasa yang terbentuk akibat dua letusan besar puluhan ribu tahun yang lalu yang kini kita kenal sebagai Danau Batur, danau berbentuk bulan sabit yang khas. Danau Batur memiliki luas mencapai 16 km2. Jika dilihat dari sisi kebudayaan, Geopark Batur didominasi bangunan religi agama Hindu seperti, Pura Pancering Jagad, Pura Dalem Belingkang, Pura Batur dan Pura Bukit Mentik. Dikawasan ini juga terdapat desa adat yang dikenal dengan Desa Adat Trunyan yang hingga kini tetap mempertahankan tradisinya.
Indonesia Geoparks
Geopark Sewu
Gunung Sewu memiliki luas hingga mencapai 1.802 km2, membentang di tiga wilayah yaitu Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan. Gunung Sewu dikenal sebagai kawasan yang dibentuk terutama oleh pelarutan batu gamping (karst). Perbukitan batuan kapur, goa, sungai bawah tanah, air terjun serta kontur cekungan menjadi ciri kawasan Geopark ini. Dengan tiga kawasan tersebut, Geopark Gunung Sewu menjadi tempat tujuan wisata yang lengkap, seperti wisata alam pantai di kawasan Gunung kidul, beragam goa di Pacitan, hingga wisata industri kreatif masyarakatnya.
Indonesia Geoparks
Geopark Toba Caldera
Kaldera Toba terletak di Sumatera Utara, kawasan ini terbentuk dari serangkaian letusan gunung Toba 840.000 tahun yang lalu, 501.000 tahun yang lalu dan yang terbesar 74.000 tahun yang lalu. Letusan yang terakhir ini dikenal dengan letusan ‘Supervolcano’ yang mengeluarkan 2.800 km3 abu vulkanik, bebatuan, dan gas panas yang mengakibatkan terjadinya musim dingin berkepanjangan dan perubahan iklim global. Kawah raksasa (kaldera) yang terbentuk, kemudian terisi air hujan selama puluhan ribu tahun sehingga membentuk sebuah danau yang kita kenal dengan Danau Toba. Bentang alam disekitar Danau Toba menjadi rumah bagi beragam flora maupun fauna dan perubahan alamnya kemudian membentuk nilai kearifan dan kebudayaan masyarakatnya.

Supervolcano Toba


Evolusi Kaldera Toba

Toba Purba
Kaldera Toba, tercipta secara bertahap

Gunungapi raksasa Toba Purba diperkirakan berkembang sejak 1,2 juta tahun lalu, ditandai dengan ditemukannya sebuah endapan purba yang dikenal dengan istilah Tuf Dasitan Haranggaol. Diawali dengan sebuah gunungapi yang besar, dimana jejaknya masih dapat ditemukan pada dinding utara dan selatan dari Danau Toba. Gunungapi ini diperkirakan sudah ada sejak erupsi Gunung Toba pertama kali terjadi.

Awal mula terbentuknya Kaldera Toba menurut para ahli, ditandai dengan peristiwa erupsi gunung Toba yang terjadi pada + 840.000 tahun yang lalu. Letusan tersebut mengeluarkan 500 km3 abu, batu, lahar dan gas. Peristiwa tersebut, kemudian menghasilkan sebuah endapan yang dikenal dengan istilah Tuf Toba Tertua (Old Toba Tuff). Saat ini, kawasan Tuf Toba Tertua oleh masyarakat luas disebut sebagai Kaldera Porsea, batas Kaldera ini meliputi wilayah Sibaganding – Porsea – Balige.

Tuf Toba Menengah
Kaldera Haranggaol

Erupsi generasi kedua, dikenal sebagai Kaldera Haranggaol. Terletak di bagian utara Danau Toba, erupsi Toba menengah ini diperkirakan terjadi pada + 501.000 tahun yang lalu dan mengeluarkan 60 km3 abu, batu, lahar dan gas, yang hingga kini dikenal sebagai Tuf Toba Menengah (Middle Toba Tuff).

Toba Tuff Muda
Kaldera Sibandang, proses akhir menuju terbentuknya Kaldera Toba

Peristiwa erupsi Kaldera generasi ketiga diperkirakan terjadi pada + 74.000 tahun yang lalu. Kejadian erupsi ketiga inilah yang termahsyur dikenal dunia dengan istilah erupsi ‘Supervolcano’. Letusan tersebut mengeluarkan + 2800 km3 material vulkanik berisi abu, batu, lahar dan gas yang kemudian dikenal sebagai Tuf Toba Termuda (Youngest Toba Tuff). Saat ini kawasan pasca erupsi ‘Supervolcano’ ini dikenal dengan nama Kaldera Sibandang. Wilayah ini menempati bagian barat dan baratdaya dari Danau Toba, di sekitar pulau Sibandang, desa Muara.

Jika kita mengacu pada evolusi Kaldera Toba, dimana waktu-jeda erupsi kaldera bisa mencapai 300.000 sampai 400.000 tahun. Maka Gunung Toba dapat meletus lagi pada 200.000 tahun yang akan datang.

Toba Caldera Evolution

Volcanic Winter : Letusan yang menciptakan musim dingin berkepanjangan

Migrasi masal menjadi satu-satunya pilihan bertahan hidup

Peristiwa Erupsi ‘Supervolcano’ Kaldera Toba ternyata menimbulkan beragam dampak. Diantaranya adalah hilangnya daerah bagian tengah dari pulau Sumatera, hal ini terjadi disebabkan adanya awan panas dari letusan 'Supervolcano'

Erupsi ‘Supervolcano’ Kaldera Toba, juga memicu terjadinya hujan batu apung dan abu vulkanik yang bertebaran di area barat hingga baratdaya Sumatera, semenanjung Malaya, hingga Indochina dan India (Madhya Pradesh).

Puncaknya, erupsi ini menghasilkan gas-gas berbahaya dan uap air ke atmosfer bahkan hingga menyentuh lapisan stratosfer. Peristiwa inilah yang kemudian memicu terhambatnya pancaran sinar matahari ke bumi, sehingga menimbulkan musim dingin yang berkepanjangan atau dikenal dengan istilah 'volcanic winter'. Akibat dari peristiwa ini, lingkungan rusak fatal sehingga makhluk hidup mengalami kematian karena kehilangan sumber bahan makanan, dan perlahan mengalami kepunahan.

Satu-satunya jalan untuk bertahan hidup pada masa itu adalah bermigrasi. Banyak catatan yang menuliskan, migrasi ini tidak hanya terjadi di wilayah Sumatera. Dikarenakan dasyatnya erupsi yang terjadi, wilayah yang terkena dampak 'volcanic winter' pun teramat luas hingga mencapai sebagian besar Asia. Akibatnya sebagian besar manusia yang ingin bertahan di wilayah yang menjadi dampak dari 'volcanic winter' ini harus bermigrasi ke tempat yang suhunya stabil, agar tetap bisa medapatkan sinar matahari dan pasokan makanan yang memadai.


Peristiwa terbentuknya pulau Samosir

Munculnya pulau di atas pulau

Kehadiran pulau Samosir di tengah luasnya Kaldera Toba merupakan sebuah peristiwa yang langka terjadi di dunia. Pulau ini muncul dari bawah permukaan air, akibat dari proses tekanan dapur magma yang mengakibatkan pengangkatan dasar kaldera (Resurgent).

Berdasarkan data dari lapisan tanah paling atas, bisa diketahui bahwa Pulau Samosir saat 30.000 tahun yang lalu, masih berada di bawah permukaan air danau.

Saat itu, Pulau Samosir telah mengalami pengangkatan sebanyak + 700 m dengan posisi cenderung miring ke arah barat. Terjadinya perubahan laju pengangkatan tersebut, berkaitan erat dengan proses pengisian ulang dari dapur magma. Berdasarkan hasil rekonstruksi proses pengangkatan pulau Samosir, maka dapat diketahui bahwa kawasan Tuktuk merupakan bagian yang termuda keluar dari permukaan air Danau Toba, yaitu pada + 8000 tahun yang lalu.


Geologi Variety


Floral & Fauna Variety


Local Wisdom